Tuesday, February 26, 2013

7 KEAJAIBAN DUNIA MENURUT AL-QUR'AN DAN AL-HADIS

7 Keajaiban Dunia Berdasarkan Al-Qur'an
1. Hewan Berbicara di Akhir Zaman
Maha Suci Allah yang telah membuat segala sesuatunya berbicara sesuai dengan yang Ia kehendaki. Termasuk dari tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah ketika terjadi hari kiamat akan muncul hewan melata yang akan berbicara kepada manusia sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an, surah An-Naml ayat 82,
“Dan apabila perkataan Telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.

Mufassir Negeri Syam, Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy berkomentar tentang ayat di atas,
“Hewan ini akan keluar diakhir zaman ketika rusaknya manusia, dan mulai meninggalkan perintah-perintah Allah, dan ketika mereka telah mengganti agama Allah. Maka Allah mengeluarkan ke hadapan mereka hewan bumi. Konon kabarnya, dari Makkah, atau yang lainnya sebagaimana akan datang perinciannya. Hewan ini akan berbicara dengan manusia tentang hal itu”.[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/498)]

Hewan aneh yang berbicara ini akan keluar di akhir zaman sebagai tanda akan datangnya kiamat dalam waktu yang dekat. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Sesungguhnya tak akan tegak hari kiamat, sehingga kalian akan melihat sebelumnya 10 tanda-tanda kiamat: Gempa di Timur, gempa di barat, gempa di Jazirah Arab, Asap, Dajjal, hewan bumi, Ya’juj & Ma’juj, terbitnya matahari dari arah barat, dan api yang keluar dari jurang Aden, akan menggiring manusia”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2901), Abu Dawud dalam Sunan-nya (4311), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2183), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (4041)]

2. Pohon Kurma yang Menangis
Adanya pohon kurma yang menangis ini terjadi di zaman Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , mengapa sampai pohon ini menangis?

Kisahnya, Jabir bin Abdillah-radhiyallahu ‘anhu- bertutur,
“Jabir bin Abdillah -radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Adalah dahulu Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berdiri (berkhutbah) di atas sebatang kurma, maka tatkala diletakkan mimbar baginya, kami mendengar sebuah suara seperti suara unta dari pohon kurma tersebut hingga Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- turun kemudian beliau meletakkan tangannya di atas batang pohon kurma tersebut” .[HR.Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (876)]

Ibnu Umar-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
“Dulu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkhuthbah pada batang kurma. Tatkala beliau telah membuat mimbar, maka beliau berpindah ke mimbar itu. Batang korma itu pun merintih. Maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya sambilmengeluskan tangannya pada batang korma itu (untuk menenangkannya)”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3390), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (505)]

3. Untaian Salam Batu Aneh
Mungkin kalau seekor burung yang pandai mengucapkan salam adalah perkara yang sering kita jumpai. Tapi bagaimana jika sebuah batu yang mengucapkan salam.

Sebagai seorang hamba Allah yang mengimani Rasul-Nya, tentunya dia akan membenarkan seluruh apa yang disampaikan oleh Rasul-Nya, seperti pemberitahuan beliau kepada para sahabatnya bahwa ada sebuah batu di Mekah yang pernah mengucapkan salam kepada beliau sebagaimana dalam sabdanya,

Dari Jabir bin Samurah dia berkata, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
“Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah yang mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus, sesungguhnya aku mengetahuinya sekarang”.[HR.Muslim dalam Shohih-nya (1782)].

4. Pengaduan Seekor Onta
Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan. Dari perasaan itu timbullah rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka. Akan tetapi ketahuilah, bukan hanya manusia saja yang memiliki perasaan, bahkan hewan pun memilikinya.

Oleh karena itu sangat disesalkan jika ada manusia yang tidak memiliki perasaan yang membuat dirinya lebih rendah daripada hewan. Pernah ada seekor unta yang mengadu kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mengungkapkan perasaannya.

Abdullah bin Ja’far-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
“Pada suatu hari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah memboncengku dibelakangnya, kemudian beliau membisikkan tentang sesuatu yang tidak akan kuceritakan kepada seseorang di antara manusia. Sesuatu yang paling beliau senangi untuk dijadikan pelindung untuk buang hajatnya adalah gundukan tanah atau kumpulan batang kurma. lalu beliau masuk kedalam kebun laki-laki Anshar. Tiba tiba ada seekor onta.

Tatkala Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melihatnya, maka onta itu merintih dan bercucuran air matanya. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya seraya mengusap dari perutnya sampai ke punuknya dan tulang telinganya, maka tenanglah onta itu. Kemudian beliau bersabda, “Siapakah pemilik onta ini, Onta ini milik siapa?” Lalu datanglah seorang pemuda Anshar seraya berkata, “Onta itu milikku, wahai Rasulullah”
.
Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
“Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah, karena ia (binatang ini) telah mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya letih dan lapar”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (1/400), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/99-100), Ahmad dalam Al-Musnad (1/204-205), Abu Ya’la dalam Al-Musnad (3/8/1), Al-Baihaqiy dalam Ad-Dala’il (6/26), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa (9/28/1). Lihat Ash-Shahihah (20)]

5. Kesaksian Kambing Panggang
Kalau binatang yang masih hidup bisa berbicara adalah perkara yang ajaib, maka tentunya lebih ajaib lagi kalau ada seekor kambing panggang yang berbicara. Ini memang aneh, akan tetapi nyata. Kisah kambing panggang yang berbicara ini terdapat dalam hadits berikut:

Abu Hurairah-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
“Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menerima hadiah, dan tak mau makan shodaqoh. Maka ada seorang wanita Yahudi di Khoibar yang menghadiahkan kepada beliau kambing panggang yang telah diberi racun. Lalu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun memakan sebagian kambing itu, dan kaum (sahabat) juga makan.

Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Angkatlah tangan kalian, karena kambing panggang ini mengabarkan kepadaku bahwa dia beracun”. Lalu meninggallah Bisyr bin Al-Baro’ bin MA’rur Al-Anshoriy. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengirim (utusan membawa surat), “Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?” Wanita itu menjawab, “Jika engkau adalah seorang nabi, maka apa yang aku telah lakukan tak akan membahayakan dirimu. Jika engkau adalah seorang raja, maka aku telah melepaskan manusia darimu”.

Kemudian Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan untuk membunuh wanita itu, maka ia pun dibunuh.

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda ketika beliau sakit yang menyebabkan kematian beliau,
”Senantiasa aku merasakan sakit akibat makanan yang telah aku makan ketika di Khoibar. Inilah saatnya urat nadi leherku terputus”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4512). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Abi Dawud (hal.813), dengan tahqiq Masyhur Hasan Salman]

6. Batu yang Berbicara
Setelah kita mengetahu adanya batu yang mengucapkan salam, maka keajaiban selanjutnya adalah adanya batu yang berbicara di akhir zaman.

Jika kita pikirkan, maka terasa aneh, tapi demikianlah seorang muslim harus mengimani seluruh berita yang disampaikan oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, baik yang masuk akal, atau tidak. Karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidaklah pernah berbicara sesuai hawa nafsunya, bahkan beliau berbicara sesuai tuntunan wahyu dari Allah Yang Mengetahui segala perkara ghaib.

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi sehingga seorang diantara mereka bersembunyi di balik batu. Maka batu itu berkata, “Wahai hamba Allah, Inilah si Yahudi di belakangku, maka bunuhlah ia”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2767), dan Muslim dalam Shohih-nya (2922)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah- berkata,
“Dalam hadits ini terdapat tanda-tanda dekatnya hari kiamat, berupa berbicaranya benda-benda mati, pohon, dan batu. Lahiriahnya hadits ini (menunjukkan) bahwa benda-benda itu berbicara secara hakikat”.[Lihat Fathul Bari (6/610)]

7. Semut Memberi Komando
Mungkin kita pernah mendengar cerita fiktif tentang hewan-hewan yang berbicara dengan hewan yang lain. Semua itu hanyalah cerita fiktif belaka alias omong kosong. Tapi ketahuilah wahai para pembaca, sesungguhnya adanya hewan yang berbicara kepada hewan yang lain, bahkan memberi komando, layaknya seorang komandan pasukan yang memberikan perintah.

Hewan yang memberi komando tersebut adalah semut. Kisah ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qur’an,
“Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang nyata”.Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).

Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.Maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa Karena (mendengar) perkataan semut itu. dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS.An-Naml: 16-19).

Ya itulah 7 keajaiban dunia yang diambil berdasarkan Al-Qur'an yang mana jika terungkap lebih luas lagi tentu akan membuat dunia tercengang

Tuesday, February 12, 2013

FENOMENAL BENARKAH NABI KHIDIR

Pendahuluan

Banyak kisah-kisah tentang Nabi Khidir yang ramai dibicarakan orang, banyak kontroversi tentang kemunculannya, sehingga hal itu mendorong rasa ingin tahu tentang hakikat sebenarnya. Ada yang menyatakan Nabi Khidir masih hidup, adapula yang menyatakan Khidir sekarang berdiam di sebuah pulau, ada pula yang menyatakan bahwa setiap musim haji Nabi Khidir rutin mengunjungi padang Arafah. Entah khidir siapa dan yang mana? Tapi yang jelas begitulah khurafat dan takhayyul berkembang di tengah masyarakat kita. Lucunya, banyak pula orang-orang yang sangat mempercayai perkara-perkara tersebut.

Semua ini berpangkal dari kesalahpahaman mereka tentang hakekat Nabi Khidir. Terlebih lagi orang-orang ekstrim dari kalangan pengikut tarekat dan tasawwuf yang membumbui berbagai macam dongeng dan cerita bohong tentang Khidir. Sebagian di antara mereka, ada yang mengaku telah bertemu dengan Khidir, berbicara dengannya dan mendapat wasiat dan ilham darinya. Misalnya di tanah air kita ini, ada sebagian orang yang mengaku telah bertemu dengan Khidir dan mengambil bacaan-bacaan shalawat, wirid-wirid dan dzikir dari Khidir secara langsung, tanpa perantara, atau melalui mimpi. Ada pula yang mengatakan beliau tidak lain dan tidak bukan adalah Sang Khidir waliyullah yg penuh misteri, guru Nabi Musa 'alaihis salam, pemilik rahasia ilmu Ladunni langsung dari Allah. Bahkan ada pula yang mengaku dialah Nabi Khidir -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Semua ini adalah keyakinan batil!!

Riwayat dusta tentang Nabi Khidir

Shufi pertama yang memalsukan kisah shufistik Nabi Khidir adalah Muhammad bin Ali bin Husain at Tirmidzi yang bergelar al Hakim (bukan Ahlu Hadits Imam at Tirmidzi), dan wafat pada akhir abad ketiga hijriyah. (Al Fikru Ash Shufi, oleh Abdurrahman Abdul Khaliq).

Riwayat tentang perjumpaan Umar bin Abdul ‘Aziz dengan Nabi Khidir.

Ya’qub bin Sufyan meriwayatkannya dalam Tarikhnya dari jalan Abdul Aziz ar Ramli dari Dhamrah bin Rabi’ah dari as Sari bin Yahya dari Riyadh bin Ubadah, dia berkata,

 “Umar bin Abdul Aziz keluar untuk shalat dan ada seorang tua yang bertelekan pada tangannya, lalu aku berkata dalam diriku, ‘Orang tua ini sangat dingin perangainya.’ Maka tatkala dia shalat dan memulainya, aku menyusulnya, lalu aku berkata, ‘Semoga Allah memperbaiki Amir dari orangtua yang bertelekan pada tanganmu?’ Dia (Umar) berkata, ‘Wahai Riyah apakah kamu tidak tahu dia?’ Aku berkata, ‘Ya.’ Dia (Umar) berkata, ‘Aku tidak mendugamu kecuali orang yang shalih, itu saudaraku Khidir, dia datang padaku lalu mengajariku, sesungguhnya aku bertanya tentang masalah umat dan sesungguhnya aku akan berlaku adil.

Abu Husain bin al Munadi berkata, “Keterangan Riyah seperti angin selain itu semua keterangannya lemah, keadaannya tidak lepas dari satu perkara ini, kalau tidak dinisbahkan kepada perawi-perawi yang tsiqah dalam keadaan lalai atau sebagian mereka sengaja memasukkannya.

Nabi Khidir shalat dengan Madzhab Syafi’i.

Diriwayatkan secara dusta dari Ahmad Sirhindy, bahwa beliau menulis:

 “…pada hari itu aku melihat dalam halaqah subuh, bahwa Ilyas dan Khidir hadir dalam bentuk rohani. Maka berkatalah Khidir dalam penyampaian rohani, ‘Kami dari alam arwah. Yang Haq telah memberi ruh kami kemampuan sempurna untuk berbentuk dan berserupa dengan bentuk-bentuk jasad. Dari ruh itu keluar gerakan-gerakan dan diam jasmaniah, ketaatan dan ibadah jasadiyah yang keluar dari fisik.’ Di sela-sela itu aku berkata, “Kamu shalat dengan madzhab Syafi’i.’ Ia menjawab, ‘Kami tidak terbebani dengan syariat-syariat. Akan tetapi, demi menjaga kepentingan kewalian quthb yang terikat pada kami. Sedangkan ia bermadzhab Syafi’I, maka kami shalat di belakangnya dengan madzhab Syafi’i…dst” (Al Muntakhabat min al Maktubat, Ahmad al Faruky, hal. 91, Turki).

Nabi Khidir pengikut Hanafi, bukan Syafi’i. 

Dalam kitab Ma’arijul Albab halaman 44, dari beberapa Syaikhnya, menyebutkan:

“Bahwa Khidir hadir di majelis fiqih Abu Hanifah setiap hari selepas shalat subuh untuk belajar syariat. Ketika Abu Hanifah meninggal, Nabi Khidir memohon kepada Tuhannya untuk mengembalikan ruhnya ke kuburnya demi kesempurnaan ilmu syariatnya. Dan, sungguh Nabi Khidir mendatangi Abu Hanifah di kuburnya untuk mengaji ilmu syariat darinya di dalam kubur. Ia melakukan hal itu selama lima belas tahun hingga ia menyempurnakan ilmu syariat.”

Lihatlah kedustaan yang besar itu. Mengapa Nabi Khidir tidak belajar syariat dari tangan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam? Mengapa juga ia tidak belajar dari Khulafa’ur Rasyidin, padahal mereka adalah manusia yang paling mengerti syariat. Abu Hanifah sendiri pernah berkata, “Tinggalkanlah pendapatku kepada ucapan para shahabat Rasulullah, sesungguhnya mereka lebih mengetahui tentang wahyu.”

Dalil Bantahan tentang pendapat yang menyatakan bahwa nabi khidir masih hidup

Orang-orang berselisih mengenai hidup atau wafatnya Khidir. Ada yang menyatakan dia masih hidup. Tetapi ada juga yang menyatakan bahwa dia telah lama meninggal berdasarkan dalil-dalil dari Al-Kitab dan Sunnah. Ini merupakan pendapat para Ahli Hadits. Karena, tidak ada satupun nash yang shahih, baik dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dapat dijadikan pegangan bahwa Khidir masih hidup. Bahkan banyak dalil yang menyatakan ia telah meninggal. Seluruh hadits yang mengatakan bahwa Khidr masih hidup adalah tidak sah, berdasarkan kesepakatan ahli al naql. Tidak ada keterangan yang dapat dipercaya bahwa Khidir pernah berjumpa atau bersama orang dari para nabi dan selainnya kecuali Nabi Mûsâ 'alaihissallam. sebagaimana telah dijelaskan di dalam al Qur’ân surat al Kahfi ayat 60 – 82.

Jika kita mengadakan riset ilmiah, maka kita akan mendapatkan Al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan bahwa Nabi Khidhir telah meninggal dunia.

Riwayat-riwayat tentang hidupnya Khidr hanyalah disebut oleh sebagian periwayatnya dengan tanpa menyebutkan kelemahan riwayat tersebut. Adakalanya dikarenakan ketidakmengertian periwayat atau karena sudah jelas bagi ahli hadits. Begitulah penuturan Abû al Khaţţâb ibn Dihyah. Hal ini senada dengan perkataan Abû al Husain ibn al Mubârak ketika ia menelusuri riwayat-riwayat tentang Khidr hidup kekal atau tidak, bahwa hadis-hadis marfû‘ yang menjelaskan tentangnya semuanya adalah wâhiyah (lemah) dan sanad (riwayat) ahl al kitâb adalah gugur karena ketidaktšiqahan mereka.

Abû al Khaţţâb juga menambahkan, pengakuan para ulama bahwa mereka pernah bertemu dengan Khidr adalah suatu keganjilan yang cukup serius. Apakah seseorang yang berakal dapat berjumpa dengan seseorang yang tak dikenal dan berkata kepadanya, “Saya Fulân” kemudian ia membenarkannya?[Mubârak al Barrâk, al Da‘îf wa al Maudû‘ min Akhbâr al Fitan wa al Malâhim wa Asyrâţ al Sâ‘ah, (Dâr al Salâm, tth.), hal. 108. Lihat juga Labib MZ, Kisah Perjalanan Hidup Nabi Khidhir; Benarkah Nabi Khidhir itu Masih Hidup Ataukah Sudah Mati?, (Surabaya: Bintang Usaha Jaya, 2003), hal. 94]

Ulama yg mengatakan Khidr telah wafat
Di antara para ulama yang berpendapat ketidakkekalan Khidr adalah Imam al Bukhârî, Ibrâhîm al Harbî, Abû Ja‘far ibn al Munâdî, Abû Ya‘lâ ibn al Farrâ’, Abû Ţâhir al ‘Abbadî, Abû Bakr ibn al ‘Arabî, Ţâ’ifah, dan lain-lain.[Al ‘Asqalânî, Fath al Bâri, Juz 6, hal. 536.] Mereka mendasarkan pendapatnya kepada hadits masyhur yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Umar dan Jâbir ibn ‘Abdullâh, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda di akhir hayatnya:

 صَلَّى بِنَا الَّنِبيُّ صَلىَّ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اْلِعشَاءَ فِي آخِرِ حَيَاتِهِ فَلَمَّا سَلَّمَ قَامَ فَقَالَ أَرَأَيْتُكُمْ لَيْلَتُكُمْ هَذِهِ فَإِنَّ رَأْسَ مِائَةِ سَنَةٍ مِنْهَا لاَ يَبْقَى مِمَّنْ هُوَ عَلىَ ظَهْرِ اْلأَرْضِ أَحَدٌ –اللفظ عن البخاري 

Rasulullah shalat ‘Isyâ’ bersama kami di akhir hayatnya. Ketika beliau telah salam, beliau berdiri lalu bersabda, “Apakah kalian tahu malam kalian ini? Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang masih hidup di muka bumi ini sampai seratus tahun ke depan”, (Lafaz hadits dari al Bukhârî). [Abû ‘Abdullâh Muhammad ibn Ismâ‘îl al Bukhârî, Şahîh al Bukhârî, (Riyad: International Ideas Home for Publishing and Distribution, 1998), hal. 55]

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al Bukhârî, Imam Muslim, Imam al Tizmizi, Imam Abû Dâwud dan Imam Ahmad dalam masing-masing kitab haditsnya melalui jalur periwayatan yang sangat banyak dan bermuara kepada dua orang sahabat, yakni Ibn ‘Umar dan Jâbir ibn ‘Abdullâh, serta keduanya langsung mendengarnya dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, yang artinya ini merupakan hadis marfû‘. Para ulama ahli hadis telah sepakat mengenai keşahîhan hadits ini termasuk Imam al Tirmîzî.[Lebih jelas lihat BAB III pada sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjelang akhir hayatnya.]

Selain berpegang kepada hadis di atas, mereka yang meyakini bahwa Khidr sudah meninggal dunia, mendasarkan kepada firman Allah dalam al Qur’ân surat al Anbiyâ’ ayat 34:
 وما جَعَلنا لِبَشَرٍ مِن قَبلِكَ الخُلدَ أفَإن مت فَهُمُ الخالِدُون 
Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (QS. Al Anbiyâ’: 34).

Dengan demikian jelas Khidr sudah meninggal dan ini tidak dapat terbantahkan lagi. Dan kalaupun dia masih hidup dan benar-benar anak kandung Nabi Âdam dan Siti Hawâ, pasti ada seorang nabi yang ditemuinya selain Nabi Mûsâ alaihissalam, sedangkan tidak ada satu pun riwayat şahîh yang mengatakan bahwa ia pernah bertemu dengan nabi selain Mûsâ alaihissalam. Dan apabila ia hidup kekal pasti ia akan menemui masa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam serta wajib bertemu dengan beliau untuk berbai‘at dan menjadi umat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, karena hal demikian merupakan perjanjian antara Allah dan para nabi yang diutus-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

وإذ أخذ الله ميثاق النبيين لما آتيتكم من كتاب وحكمة ثم جاءكم رسول مصدق لما معكم لتؤمنن به ولتنصرنه قال أأقررتم وأخذتم على ذلكم إصري قالوا أقررنا قال فاشهدوا وأنا معكم من الشاهدين 

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rasûl yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para Nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. (QS. Âli ‘Imrân: 81).

Ringkasnya, jikalau Khidr alaihissalam hidup kekal maka ia terikat dengan perjanjian tersebut dan harus menemui Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk beriman kepadanya dan ikut serta dalam setiap perjuangannya mensyiarkan agama Islam. Akan tetapi—lagi-lagi—tidak ada satu pun riwayat sah yang menunjukkan bahwa Khidr pernah bertemu dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Terlebih, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda,

 عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ ثُمَّ أَنَّ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَتىَ النَّبِيَّ صَلىَّ الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْضِ أَهْلِ الْكِتَبِ فَقَرَأَهُ الَّنبِيَّ صَلىَّ الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَغَضِبَ فَقَالَ أُمَتِّهُوْكُوْنَ فِيْهَا يَا بْنَ الْخَطَّابِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةَ لاَ تَسْأَلُوْهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوْكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوْا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتَصَدَّقُوْا بِهِ , وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوْسَى صَلىَّ الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِي – رواه أحمد 

Dari Jâbir ibn ‘Abdullâh, sesungguhnya ‘Umar ibn al Khaţţâb datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan kitab yang diberikan kepadanya dari sebagian ahlul kitâb. lalu ‘Umar membacakannya di hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam maka beliau marah dan bersabda, “Apakah kamu ragu padanya, wahai Ibn al Khaţţâb? Demi yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa ajaran yang putih jernih, maka janganlah kalian bertanya kepada mereka (ahl kitâb) tentang sesuatu apapun, maka mereka memberitahukan kebenaran kepada kalian, lalu kalian mendustakannya, atau mereka memberitahukan kebatilan kepada kalian, lalu kalian membenarkannya. Demi yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, seandainya Mûsâ alaihissalam masih hidup, tidak ada keharusan kecuali ia harus mengikuti ajaranku”. (HR. Ahmad).[Abû ‘Abdullâh Ahmad ibn Hanbal, Musnad al Imâm al Hâfiz Abî ‘Abdullâh Ahmad ibn Hanbal, (Riyad: International Ideas Home for Publishing and Distribution, 1998), Juz 3, hal. 338. Hadis ini telah dijelaskan pada Bab III tentang sumpah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam]

Hadits di atas walaupun membicarakan Nabi Mûsâ alaihissalam tetapi ia mengena kepada nabi-nabi lainnya, termasuk nabi Khidr. Apabila Khidr alaihissalam masih hidup maka ia harus bertemu dengan Rasulullah, mengaku beriman kepadanya, mengikuti şalat berjama‘ah dan berjihad bersamanya, sebagaimana Nabi ‘Îsâ alaihissalam mengakuinya dan şalat bersamanya sebagai ma’mûm ketika Rasulullah dalam perjalanan Isrâ’ dan Mi‘râj. Karenanya, Abû al Husain ibn al Munâdi mengatakan, banyak orang-orang yang keliru dan sesat dalam memahami hadits sehingga mengklaim bahwa Khidr alaihissalam itu hidup kekal sampai hari kiamat nanti.[Muhammad Syams al Haq al ‘Azîm al Abadî Abû al Ţayyîb, ‘Aun al Ma‘bûd fî Syarh Sunan Abî Dâwud, (Beirut: Dâr al Kutub al ‘Ilmiyyah, 1415 H.), Juz 11, hal. 339]

Untuk semakin memperkuat pendapat bahwa Khidr tidak hidup abadi, para ulama mengangkat hadis tentang perang Badar berikut:

حَدثَّنَا عُمَرُ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ ثُمَّ نَظَرَ نَبِيُّ اللهِ صَلىَّ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمُشْرِكِيْنَ وَهُمْ أَلْفٌ وَأَصْحَابُهُ ثَلاَثُمِائَةٍ وَبِضْعَةُ عَشْرِ رَجُلاً فَاسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللهِ صَلىَّ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اْلِقبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ وَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ اَلَّلهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي الَّلهُمَّ آتِنِي مَا وَعَدْتَنِي الَّلهُمَّ إِنْ تُهْلِك هَذِهِ الْعَصَابَةَ مِنْ أَهْلِ اْلإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَد فيِ اْلأَرْضِ فَمَا زَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ مَادًّا يَدَيْهِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ مِنْ مَنْكَبَيْهِ فَآتاَهُ أَبُوْ بَكْرٍ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَأَلْقَاهُ عَلَى مَنْكَبَيْهِ ثُمَّ الْتَزَمَهُ مِنْ وَرَائِهِ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللهِ كَفَاكَ مُناشَدَتُكَ رَبُّكَ, إِنَّهُ سَيُنْجِزُ لَكَ مَا وَعَدَكَ فَأَنْزَلَ الله إِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ مُرْدِفِيْنَ – رواه الترمذي


Diriwayatkan oleh ‘Umar ibn al Khaţţâb, ia berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melihat kaum Musyrikîn yang berjumlah 1000 orang sedangkan para sahabatnya hanya berjumlah 3 ratus belasan orang. Maka Nabi saw. menghadap kiblat kemudian mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Tuhannya, “Ya Allah, penuhilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, datangkanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, apabila Engkau membinasakan golongan ini dari umat Islam maka tidak akan ada yang menyembah Engkau di bumi ini”. Beliau cukup lama memanjatkan doa kepada Tuhannya seraya mengangkat kedua tangannya sehingga selendangnya terjatuh dari kedua pundaknya. Maka Abû Bakr menghampiri beliau dan mengambil selendangnya kemudian meletakkannya kembali di kedua pundak nabi lalu memeluknya dari belakang seraya berkata, “Wahai Nabi Allah, cukuplah permohonanmu kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia akan memenuhi apa yang Dia janjikan kepadamu. Kemudian Allah menurunkan ayat (yang artinya) “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”. [QS. al Anfâl: 9]. (HR. Tirmîzî). [Muhammad ibn ‘Îsâ Abû ‘Îsâ al Tirmîzî, Sunan al Tirmîzî, (Beirut: Dâr Ihyâ’ al Turâš al ‘Arabî, tth.), Juz 5, hal. 269. Lihat penjelasan hadis ini pada Bab III tentang do‘a Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika Perang Badar]

Melihat hadits di atas, apabila Khidr masih hidup tentu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak akan berdoa seperti itu, karena saat itu Khidr tidak bersama pasukan Rasulullah. Jadi, seandainya pasukan Rasulullah yang berjumlah 310 orang itu mati semua, tentu Rasûl tidak akan khawatir karena masih ada Khidr yang masih menyembah Allah dan menyebarkan ajaran Islam.[Abû al ‘Alâ Muhammad ‘Abdurrahmân ibn ‘Abdurrahîm al Mubârakfûrî, Tuhfah al Ahwâzî bi Syarh Jâmi‘ al Tirmîzî, (Dâr al Fikr, tth.), Juz 6, hal. 433.]

Syaikhul Islam Ahmad bin Abdil Halim Al-Harraniy rahimahullah berkata ketika ditanya tentang hadits di atas, “Andaikan Khidir masih hidup, maka wajib baginya untuk datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berjihad di hadapannya, serta belajar dari beliau (Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam). Sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam perang Badar, “Ya Allah, jika pasukan ini hancur, maka engkau tidak akan disembah lagi dimuka bumi”. Pasukan kaum muslimin waktu itu sebanyak 313 personil. Telah dikenal nama mereka, nama orang tua, dan qabilah mereka. Lantas dimanakah Khidir pada saat itu?” [Lihat Al-Manar Al-Munif (hal. 68)]

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah bersabda seusai menceritakan kisah pertemuan antara Mûsâ 'alaihissalam dan Khidr 'alaihissalam:
 يَرْحَمُ الله ُمُوْسَى لَوَدِدْنَا لَوْ صَبَرَ حَتىَّ يَقُصَّ عَلَيْنَا مِنْ أَمْرِهِمَا — رواه البخاري 
“Semoga Allah merahmati Nabi Mûsâ, kita benar-benar menghendaki seandainya ia bisa bersabar sehingga dapat menceritakan kepada kita semua suatu perkara yang terjadi di antara mereka berdua”. (HR al Bukhârî). [Teks hadis lengkap beserta penjelasannya lihat Bab III pada ucapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di akhir cerita Mûsâ dan Khidr]

Jadi, jikalau Khidr 'alaihissalam masih hidup sampai sekarang, tentu Rasulullah tidak akan berandai-andai seperti itu, sebab ia akan berada bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. dan menunjukkan berbagai macam keajaiban-keajaiban kepada beliau.[10]

Golongan yang meyakini bahwa Khidr tidak hidup kekal, selain dalil-dalil berupa ayat al Qur’ân dan hadits-hadits di atas, mereka juga mengajukan argumentasi-argumentasi berupa asumsi-asumsi dari akal pikiran mereka. Misalnya, Ibn al Jauzî berkata, “Seandainya Khidir masih hidup, padahal seperti kita ketahui beliau hidup pada zaman Nabi Mûsâ, bahkan menurut satu cerita sudah hidup pada zaman sebelumnya, tentunya tubuhnya pun sama besar dengan tubuh manusia yang hidup pada zaman mereka, yaitu besar dan tinggi orangnya”.[Al ‘Asqalânî, Kisah Nabi Khidir, hal. 25]

Berkata Abû al Hasan ibn al Munâdi bahwa Ibrâhîm pernah ditanya tentang Khidr, maka beliau menjawab, “Dia sudah lama mati”. Orang yang mengatakan Khidr masih hidup dan gaib berarti mereka tidak benar. Tentang Khidr yang datang memberi ta‘ziyah kepada para sahabat dan keluarga Rasulullah ketika beliau wafat, sedangkan orang yang berta‘ziyah tidak nampak dan hanya terdengar suaranya, mungkin saja yang datang itu jin. Begitu juga cerita orang yang mengaku dirinya bertemu Khidr, mungkin saja yang datang itu jin atau syaiţân. Dan mengenai hadis Anas radhiyallahu 'anhu yang mengatakan Khidr masih hidup, para ulama ahli hadis sepakat menolak hadis tersebut. Seandainya ia masih hidup, pasi ia akan datang menjumpai Rasulullah dan ikut hijrah bersamanya.[Al ‘Asqalânî, Kisah Nabi Khidir, hal. 28]

Adapun dalil-dalil berupa hadits-hadits marfu’, dan mauquf yang menyebutkan tentang hidupnya Nabi Khidir sampai hari ini, maka hadits-hadits itu lemah, bahkan palsu, tidak bisa dijadikan hujjah dan dalil dalam menetapkan hukum, apalagi keyakinan (aqidah).

 Al-Imam Ibrahim bin Ishaq Al-Harbiy rahimahullah berkata, “Tidak ada yang menyebarkan berita-berita seperti ini (yakni tentang hidupnya Khidir) di antara manusia, kecuali setan”. [Lihat Al-Maudhu’at (1/199) dan Ruh Al-Ma’aniy (15/321) karya Al-Alusiy]

Ibnul Munadiy berkata,“Aku telah mengadakan riset tentang hidupnya Khidir, apakah ia masih ada ataukah tidak, maka tiba-tiba kebanyakan orang-orang bodoh tertipu bahwa ia masih hidup karena hadits-hadits (lemah) yang dirwayatkan dalam hal tersebut”. [Lihat Az-Zahr (hal. 38)]

 Ibnul Jauziy setelah membawakan beberapa hadits tentang hidupnya Nabi Khidir berkata, “Hadits-hadits ini adalah batil”. [Lihat Al-Maudhu’at (1/195-197)]

Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata, “Hadits-hadits yang disebutkan di dalamnya tentang Khidir, dan hidupnya, semuanya adalah dusta (palsu). Tidak shahih satu hadits pun tentang hidupnya Nabi Khidir”. [Lihat Al-Manar Al-Munif (hal. 67)]

Seorang ulama Syafi’iyyah, Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy rahimahullah berkata setelah membawakan hadits dan kisah tentang hidupnya Khidir, “Riwayat-riwayat, dan hikayat-hikayat ini merupakan sandaran orang yang berpendapat tentang hidupnya Nabi Khidir sampai hari ini. Semua hadits-hadits yang marfu’ ini adalah dha’if jiddan (lemah sekali), tidak bisa dijadikan hujjah dalam urusan agama”. [Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah (1/334)]

Abul Khaththab Ibnu Dihyah Al-Andalusiy rahimahullah berkata, “Tidak terbukti tentang pertemuan Nabi Khidir bersama dengan seorang nabi, kecuali bersama Musa, sebagaimana Allah -Ta’ala- telah kisahkan tentang berita keduanya. Semua berita tentang hidupnya tak ada yang shahih sedikitpun berdasarkan kesepakatan para penukil hadits (ahli hadits). Hal itu hanyalah disebutkan oleh orang yang meriwayatkan berita tersebut, dan tidak menyebutkan penyakitnya, entah karena ia tidak mengetahuinya, atau karena jelasnya penyakit berita tersebut di sisi para ahli hadits”. [Lihat Az-Zahr An-Nadhir (hal. 32)]

Ibrahim Al-Harbi pernah bertanya kepada Imam Ahmad, apakah Nabi Khidir dan Nabi Ilyas masih hidup, keduanya masih ada dan melihat kita serta kita bisa mendapatkan riwayat dari mereka berdua. Kemudian Imam Ahmad menjawab:
 من أحال على غائب لم ينصف منه، وما ألقى هذا إلا الشيطان 
Siapa yang menekuni masalah ghaib (klenik), dia tidak akan bisa bersikap proporsional dalam masalah ini. Tidak ada yang membisikkan berita ini kecuali setan.”

Inilah beberapa dalil, dan komentar para ulama, semuanya menyatakan Nabi Khidir tidak hidup lagi atau sudah meninggal. Nyatalah kebatilan orang yang mengaku bertemu dengan Nabi Khidir untuk menerima ajaran di luar ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bagaimana mungkin Khidir mengajarkan suatu ajaran di luar syari’at Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam??! Itu pasti bukan Nabi Khidir, tapi setan yang ingin menyesatkan manusia

Tuesday, February 5, 2013

PUPUK

ABSTRAK
Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dapat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik yang memiliki kandungan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanah dan tanaman. Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) mencapai 23% dari jumlah pemanfaatan limbah kelapa sawit tersebut sebagai alternatif pupuk organik juga akan memberikan manfaat lain dari sisi ekonomi.
Pertumbuhan produksi kelapa sawit semakin meningkat sejalan dengan jumlah limbah yang dihasilkan. Upaya untuk mengatasi hal tersebut, Pusat Penelitian Kelapa sawit (PPKS) melakukan teknologi pengomposan dengan memanfaatkan hasil limbah pabrik menjadi kompos yang memiliki nilai ekologi dan ekonomi yang tinggi. Bahan yang diperlukan untuk produksi kompos tersebut adalah Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (LCPKS).
Keunggulan kompos TKKS meliputi: kandungan kalium yang tinggi, tanpa penambahan starter dan bahan kimia, memperkaya unsur hara yang ada di dalam tanah, dan mampu memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi. Selain itu kompos TKKS memiliki beberapa sifat yang menguntungkan antara lain: (1) memperbaiki struktur tanah berlempung menjadi ringan; (2) membantu kelarutan unsur-unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman; (3) bersifat homogen dan mengurangi risiko sebagai pembawa hama tanaman; (4) merupakan pupuk yang tidak mudah tercuci oleh air yang meresap dalam tanah dan (5) dapat diaplikasikan pada sembarang musim.
Proses pengomposan tandan kosong kelapa sawit ini tidak menggunakan bahan cair asam dan bahan kimia lain sehingga tidak terdapat pencemaran atau polusi, selain itu proses pengomposannya pun tidak menghasilkan limbah. Proses membuat kompos dimulai dengan pencacahan tandan kosong sawit terlebih dahulu dengan mesin pencacah kemudian bahan yang telah dicacah ditumpuk memanjang dengan ukuran lebar 2,5 m dan tinggi 1 m. Selama proses pengomposan tumpukan tersebut disiram dengan limbah cair yang berasal dari pabrik kelapa sawit. Tumpukan dibiarkan diatas semen dan dibiarkan di lantai terbuka selama 6 minggu. Kompos dibolak-balik dengan mesin pembalik. Setelah itu kompos siap untuk dimanfaatkan.
 PENDAHULUAN
Kelapa sawit merupakan produk yang banyak diminati oleh para investor karena nilai ekonominya yang cukup tinggi. Saat ini luas areal perkebunan kelapa sawit di indonesia mencapai 7.077.207 ha atau meningkat 12,95% jika dibandingkan akhir tahun 2005 yang hanya 5.453.817 ha. Volume ekspor minyak sawit pada tahun 2009 mencapai 14.628.000 ton dengan nilai 10,971 milliar US$. Jumlah tersebut tergolong tinggi bila dibandingkan dengan komoditas perkebunan lain yaitu: kakao, 463.632 ton dengan nilai 924,157 juta US$; kopi, 350.000 ton dengan nilai 630 juta US$, dan minyak kelapa, 739.923 ton dengan nilai 570,410 juta US$ (DIRJEN Perkebunan, 2009).
Peningkatan produksi pabrik kelapa sawit memiliki konsekuensi berupa peningkatan limbah kelapa sawit yang dihasilkan. Limbah pabrik kelapa sawit dapat digolongkan dalam tiga jenis yaitu limbah padat, limbah cair, dan limbah gas. Salah satu jenis limbah padat yang paling banyak dihasilkan oleh pabrik kelapa sawit adalah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yaitu sekitar 22 – 23% dari total tandan buah segar (TBS) yang diolah (Fauzi et al., 2002). Total jumlah limbah TKKS seluruh Indonesia pada tahun 2009 diperkirakan mencapai 4,2 juta ton. Agar limbah berupa TKKS yang jumlahnya sangat besar ini tidak menimbulkan permasalahan, maka diperlukan manajemen yang baik untuk mengelolanya. Salah satu alternatif cara pengelolaan TKKS adalah dengan melakukan pengomposan. Setelah dikomposkan, limbah berupa TKKS dapat digunakan sebagai pupuk organik.
Pengomposan merupakan proses dekomposisi bahan organik kompleks yang dilakukan oleh mikroorganisme sehingga menjadi bahan organik sederhana yang kemudian mengalami mineralisasi sehingga menjadi tersedia dalam bentuk mineral yang dapat diserap oleh tanaman atau ogranisme lain. TKKS merupakan bahan organik kompleks yang komponen penyusunnya adalah material yang kaya unsur karbon (Sellulosa 42,7%, Hemisellulosa 27,3%, lignin 17,2%) (Darnoko et al., 2006. Sellulosa merupakan polymer dari glukosa, proses degradasi sellulosa menjadi glukosa (soluble sugars) yang dapat digunakan oleh mikroorganisme untuk proses biosintesis memerlukan waktu yang cukup lama, karena menggunakan setidaknya tiga jenis enzim: exoglucanase, endoglucanase dan β-glucosidase (cellulase complex). Hal tersebut menyebabkan keseluruhan proses dekomposisi TKKS memerlukan waktu yang lama.
Lamanya waktu yang dibutuhkan pada proses pengomposan TKKS akan menimbulkan permasalahan, karena semakin lama proses pengomposan berlangsung maka semakin luas area yang dibutuhkan untuk pengomposan, biaya yang dikeluarkan untuk pengomposan TKKS juga akan semakin besar. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, maka dibutuhkan suatu teknik pengomposan yang tepat agar proses pengomposan dapat berjalan dengan optimal.
Tanaman kelapa sawit (Elaeis guinensis Jack.) berasal dari Nigeria. Meskipun demikian, ada yang menyatakan bahwa kelapa sawit berasal dari Amerika Selatan yaitu Brazil karena lebih banyak ditemukan spesies kelapa sawit di hutan Brazil dibandingkan dengan Afrika. Pada kenyataannya tanaman kelapa sawit hidup subur di luar daerah asalnya, seperti Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Papua Nugini. Bahkan mampu memberikan hasil produksi per hektar yang lebih tinggi (Fauzi et al., 2002).
Kelapa sawit pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah kolonial belanda pada tahun 1848. Ketika itu ada empat batang bibit kelapa sawit yang dibawa dari Mauritus dan Amsterdam dan ditanam di Kebun Raya Bogor. Tanaman kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial pada tahun 1911. Perintis usaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah Adrien Hallet, seorang Belgia yang telah belajar banyak tentang kelapa sawit di Afrika. Budidaya yang dilakukannya diikuti oleh K. Schadt yang menandai lahirnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di pantai timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunannya mencapai 5.123 ha. Indonesia mulai mengekspor minyak sawit pada tahun 1919 sebesar 576 ton ke negara-negara Eropa (Fauzi et al., 2002)
Pada umumnya kelapa sawit tumbuh rata-rata 20 – 25 tahun. Pada 3 tahun pertama disebut sebagai kelapa sawit muda, karena pada umur tersebut pohon kelapa sawit belum menghasilkan buah. Pohon kelapa sawit akan mulai berbuah pada umur 4 sampai enam tahun, dan pada usia tujuh tahun disebut sebagai periode matang (the mature periode) dimana pada saat itu tanaman mulai menghasilkan tandan buah segar (fresh fruit bunch). Pada usia 11 sampai 20 tahun pohon kelapa sawit akan mengalami penurunan produksi, dan biasanya pada usia 20 – 25 tahun tanaman kelapa sawit akan mati (Fauzi et al., 2002).
Semua komponen buah sawit dapat dimanfaatkan. Buah sawit memiliki daging dan biji sawit (kernel), dimana daging sawit dapat diolah menjadi CPO (crude palm oil), sedangkan buah sawit diolah menjadi PK (palm kernel). Ekstraksi CPO rata-rata 20 % sedangkan PK 2.5%. Sementara itu cangkang biji sawit dapat dimanfaatkan menjadi bahan bakar ketel uap (Fauzi et al., 2002).
Minyak sawit dapat dipergunakan untuk bahan makanan dan industri setelah melalui proses penyulingan, penjernihan dan penghilangan bau atau RBDPO (refine, bleached and Deodorized palm oil). Disamping itu dapat diuraikan untuk produksi minyak sawit padat (RBD stearin) dan untuk produksi minyak sawit cair (RBD olein). RBD olein terutama dipergunakan untuk pembuatan minyak goreng. Sedangkan RBD stearin dipergunakan untuk margarin dan shortening, disamping untuk bahan baku industri sabun dan deterjen. Pemisahan CPO dan PK dapat menghasilkan oleokimia dasar yang terdiri dari asam lemak dan gliserol. Secara keseluruhan proses penyulingan minyak sawit dapat menghasilkan 73 % olein, 21 % stearin, 5 % PFAD (Palm fatty Acid Distillate) dan 0,5 % buangan (Fauzi et al., 2002).
Proses pengolahan kelapa sawit menghasilkan produk ikutan berupa limbah kelapa sawit. Berdasarkan tempat pembentukannya limbah kelapa sawit dapat digolongkan menjadi dua jenis yaitu limbah perkebunan kelapa sawit dan limbah industri kelapa sawit. Limbah industri kelapa sawit adalah limbah yang dihasilkan pada proses pengolahan kelapa sawit. Limbah jenis ini digolongkan dalam tiga jenis yaitu limbah padat, limbah cair, dan limbah gas (Fauzi et al., 2002).
Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan salah satu jenis limbah padat yang dihasilkan dalam industri minyak sawit. Jumlah TKKS ini cukup besar karena hampir sama dengan jumlah produksi minyak sawit mentah. Limbah tersebut belum banyak dimanfaatkan secara optimal. Komponen terbesar dari TKKS adalah selulosa (40-60 %), disamping komponen lain yang jumlahnya lebih kecil seperti hemiselulosa (20-30 %), dan lignin (15-30 %) (Dekker, 1991). Salah satu alternatif pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit adalah sebagai pupuk organik dengan melakukan pengomposan (Fauzi et al., 2002).
Pengomposan adalah proses biologis dimana mikroorganisme mengkonversi material organik menjadi kompos. Pengomposan dinominasi oleh proses aerob atau proses yang membutuhkan oksigen. Mikroorganisme memakai O2 untuk mendapatkan energi dan nutrisi dari material organik. Dalam proses tersebut mereka menghasilkan karbon dioksida (CO2), air, panas, kompos dan bermacam-macam gas sebagai produk dari dekomposisi material organik. Berbagai macam transformasi biologis dan produk terjadi dalam proses pengomposan. Dilakukan oleh berbagai macam mikroorganisme, yang menghuni bermacam-macam lingkungan mikro. Meskipun mikroorganisme mendekomposisi beberapa material organik, mereka terus menciptakan senyawa organik baru dari produk hasil dekomposisi. Unsur seperti nitogen (N) dan sulfur (S) bergabung dengan unsur lain, berubah secara cepat diantara bentuk terlarut dan tidak terlarut. Bentuk unsur yang terlarut adalah ditujukan untuk digunakan oleh mikrobia atau kemungkinan terjadi pencucian. Proses kimia dan fisika yang lain juga terjadi, mempengaruhi porositas, kapasitas menahan air dan nutrisi, konduktivitas, pH, dan sifat lain yang mungkin berpengaruh baik dalam proses pengomposan atau potensi penggunaan dari produk hasil pengomposan (Stoffella dan Kahn, 2001).
Pengomposan adalah proses aerob, yang berarti dalam prosesnya membutuhkan udara. Bahkan udara mungkin lebih penting dari makanan bagi mikroorganisme, pada umumnya dalam tumpukan kompos, udara lebih dahulu habis daripada makanan. Jika tidak terdapat cukup udara, dekomposisi terjadi secara anaerob, yang merupakan hal buruk untuk dua alasan. Pertama, perosesnya lebih lambat daripada pengomposan secara aerob, dan kedua, beberapa produknya, seperti ammonia dan hidrogen sulfida menimbulkan bau busuk (Thompson K, 2007)
Oksigen disediakan pada material kompos melalui aerasi. Mekanisme aerasi dapat sangat efektif, tetapi tidak sempurna. Dalam kenyataan, sebagian dari proses dekomposisi juga terjadi secara anaerob (tanpa O2). Proses anaerob berperan pada keseluruhan dekomposisi dari material kompos. Tetapi, dekomposisi anaerob yang berlebihan tidak diinginkan selama pengomposan karena menghasilkan degradasi yang tidak sempurna dan bau (Miller, 1993). Menyediakan kondisi aerasi yang baik meminimalkan bau yang berhubungan dengan proses anaerob dan menyempurnakan dekomposisi dari produk degradasi anaerobik parsial seperti asam organik, yang dapat berperan pada fitotoksisitas ketika kompos digunakan (Stoffella dan Kahn, 2001).

Kondisi yang dianjurkan untuk pengomposan

Kondisi
Batas yang  layak
Batas yang dianjurkan
Rasio C/N
20/1 – 40/1
25/1 – 30/1
Kelembaban
40 – 65 % (1)
50 – 60 %
Konsentrasi O2
> 5 %
jauh lebih besar dari 5 %
Ukuran Partikel
3 – 13
Bervariasi (2)
Ph
5.5 – 9.0
6.5 – 80
Temperatur
43 – 66
6.5 – 80
1 Rekomendasi untuk pengomposan cepat. Kondisi diluar batas tersebut dapat juga memberikan hasil yang baik
2 Tergantung pada material yang digunakan, ukuran tumpukan, dan keadaan lingkungan (Rynk et al., 1992).

Dalam sistem pengomposan cepat (high-rate composting) yang diteliti oleh John R. Snell di Michigan State University, proses pengomposan dilakukan secara mekanis dalam rektor vertikal. Penelitiannya menunjukkan bahwa limbah padat pada tanah memberikan hasil pengomposan terbaik ketika rasio C/N dalam reaktor berada dibawah kisaran 50/1, pH di dalam reaktor dipertahankan pada kisaran 5.5 – 8.0, dengan kelembaban diantara 50 – 60%. inokulum mikrobia terbaik yang digunakan sebagai aktivator berasal dari kompos matang, jumlahnya antara 2 – 10% dari limbah padat yang dikomposkan. Kompos yang berada di dalam reaktor diaduk secara terus-menerus agar mendapat udara dengan baik. Udara ditiupkan ke dalam reaktor untuk menjaga supply oksigen bagi mikroorganisme. Temperatur dikontrol untuk memaksimalkan pertumbuhan mikroorganisme. Professor Snell menemukan bahwa proses pengomposan selesai ketika sudah tidak ada peningkatan temperatur yang signifikan, tidak ada lagi kandungan nitrogen yang hilang, dan kompos tidak menghasilkan bau yang menyengat (McKinney, 2004). Sistem high-rate composting tersebut tidak cocok jika diterapkan dalam skala intustri, karena biaya yang dibutuhkan untuk proses pengomposan akan sangat besar.
Parameter psikokhemis untuk kompos yang sudah matang sangat bervariasi. Yang paling penting adalah: pH (7.5 – 7.8); kelembaban (55 – 65%); kandungan residu kering (35 – 45%); kandungan abu (15 – 25%); total nitrogen ( 2 – 3%); kandungan ammonia (1.5 – 1.8%); kandungan nitrat (1 – 2%); total fosfor (2.5 – 3%); total potassium (1 – 1.2%); rasio C/N (20 – 30). Kandungan unsur mikro sebagai berikut: Cu (3–3.6), Zn (40–50), Co (0.05–0.1), Mn (40–45), dan Fe (100) (Neklyudov, A. D. et al., 2008).
Pada proses pengomposan tandan kosong kelapa sawit yang dilakukan di sebagian besar industri sawit, hal pertama yang dilakukan adalah pencacahan. TKKS dicacah terlebih dahulu menjadi serpihan-serpihan dengan memakai mesin pencacah. Kemudian bahan yang telah dicacah ditumpuk memanjang dengan ukuran lebar sekitar 2,5 meter dan tinggi 1 meter. Selama proses pengomposan tumpukan tersebut disiram dengan limbah cair yang berasal dari pabrik kelapa sawit. Pabrik kelapa sawit dengan kapasitas 30 ton tandan buah segar per jam dapat memproduksi 60 ton kompos dari 100 ton tandan kosong sawit yang dihasilkan (Fauzi et al., 2002).
Proses pengomposan akan berlangsung dalam waktu 1,5 – 3 bulan. Kompos yang sudah matang dapat dilihat dari ciri-ciri sebagai berikut :
  1. Terjadi perubahan warna menjadi coklat kehitaman
  2. Suhu sudah turun dan mendekati suhu pada awal proses pengomposan
  3. Jika diremas, TKKS mudah dihancurkan atau mudah putus serat-seratnya
Pengamatan secara kimia ditunjukkan dengan rasio C/N yang sudah turun. Rasio C/N awal TKKS berkisar antara 50-60. Setelah proses pengomposan rasio C/N akan turun dibawah 25. Apabila rasio C/N lebih tinggi dari 25 proses pengomposan belum sempurna. Pengomposan perlu dilanjutkan kembali sehingga rasio C/N di bawah 25 (Isroi, 2008).
Salah satu parameter penting dalam mempercepat proses pengomposan adalah ketersediaan O2. Pada sistem pengomposan, supply O2 dipenuhi melalui mekanisme aerasi. Aliran udara pada sistem pengomposan perlu dipertahankan pada 10 dan 30 cf/hari/lb vs muatan awal dari limbah padat yang dikomposkan. Terlalu sedikit aerasi menyebabkan kondisi anaerob terjadi, memperlambat proses pengomposan. Terlalu banyak aeasi akan menyebabkan kompos menjadi kering dan menghambat/menghentikan metabolisme. Kelembaban optimal pada kompos adalah diantara 55% dan 69% (McKinney, 2004).
Hal penting yang perlu diketahui dalam setiap proses pengomposan adalah selalu ada batas maksimal mengenai kecepatan proses pengomposan suatu material organik. Jika batas maksimal tersebut telah dicapai, perlakuan apapun yang diberikan terhadap sistem kompos tidak akan dapat mempercepat laju proses pengomposan.
Kelapa sawit Indonesia merupakan salah satu komoditi yang mengalami perkembangan yang terpesat. Sejalan dengan perluasan areal, produksi juga meningkat dengan laju 9.4% per tahun. Pada awal tahun 2001 – 2004, luas areal kelapa sawit dan produksi masing-masing tumbuh dengan laju 3.97% dan 7.25% per tahun, sedangkan ekspor meningkat 13.05% per tahun (Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, 2005 dalam Isroi dkk., 2008). Tahun 2010 produksi Crude Palm Oil (CPO) diperkirakan akan meningkat antara 5% – 6%, sedangkan untuk periode 2010 – 2020, pertumbuhan produksi diperkirakan berkisar antara 2% – 4% (Susila, 2004 dalam Isroi dkk., 2008).
Kompos TKKS dapat diaplikasikan untuk berbagai tanaman sebagai pupuk organik, baik secara tunggal maupun dikombinasikan dengan pupuk kimia. Penelitian aplikasi kompos TKKS pada tanaman cabe telah dilakukan di Kabupaten Tanah Karo pada tahun 2002. Hasilnya menunjukkan bahwa aplikasi kompos TKKS dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi cabe, yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan tanpa pupuk organik (kontrol) maupun aplikasi pupuk kandang. Aplikasi 0,25 dan 0,50 kg kompos TKKS dapat meningkatkan hasil cabe berturut-turut hingga 24% dan 45% dibanding perlakuan kontrol, sedangkan aplikasi pupuk kandang hanya dapat meningkatkan hasil sebesar 7% dibanding perlakuan kontrol (PPKS, 2008).
Penelitian aplikasi kompos TKKS ini selain tanaman cabe, juga dilakukan penelitian menggunakan tanaman jeruk. Hasil pengamatan terhadap aplikasi kompos TKKS pada produksi tanaman jeruk selama dua kali panen menunjukkan bahwa aplikasi kompos berpengaruh terhadap peningkatan produksi jeruk. Aplikasi kompos TKKS hingga 30 kg dapat meningkatkan produk jeruk sebesar 49% – 74% dibanding kontrol tanpa kompos. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa jeruk dengan aplikasi kompos mempunyai kulit buah yang lebih mengkilap dibandingkan jeruk yang tidak diberi kompos. Hal ini diduga erat kaitannya dengan cukupnya hara kalium yang diserap tanaman, yang berasal dari kompos TKKS (PPKS, 2008)
Kompos TKKS juga dapat dimanfaatkan sebagai media tumbuh tanaman hortikultura. Pada penelitian mengenai pemanfaatan kompos TKKS sebagai media tanpa tanah dan pemupukan pada tanaman pot Spathiphyllum, kombinasi kompos TKKS dan pupuk kandang digunakan sebagai petak utama dan frekuensi pemupukan sebagai anak petak. Hasil penelitian menunjukkan babwa komposisi media berpengaruh nyata terhadap semua parameter yang diamati kecuali untuk pori terisi udara dan kadar N daun, sedang frekuensi pemupukan tidak berpengaruh nyata terhadap semua paramater yang diamati kecuali terhadap tinggi tanaman mulai umur dua bulan dan kadar K pada tanaman umur enam bulan. Kombinasi 50% kompos TKKS dan 50% pupuk kandang adalah media yang baik untuk tanaman Spathiphyllum (Wuryaningsih dan Goenadi, 1995).
Hingga kini, pemerintah tetap konsisten untuk membangun kebun sawit yang lestari dan aman terhadap lingkungan. Misalnya dalam Undang-Undang No 18/2004 Tentang Perkebunan pada bab IV Bagian Ketujuh Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup Pasal 25 disebutkan pada ayat (1) Setiap pelaku usaha perkebunan wajib memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup dan mencegah kerusakannya.
(2) Untuk mencegah kerusakan fungsi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sebelum memperoleh izin usaha perkebunan perusahaan perkebunan wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup.

KESIMPULAN
            Bahwa dalam berbagai penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa limbah kelapa sawit dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Antara lain yaitu Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang memiliki kandungan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanah dan tanaman.
Tandan kosong kelapa sawit mencapai 23% dari jumlah pemanfaatan limbah kelapa sawit tersebut sebagai alternatif pupuk organik juga akan memberikan manfaat lain darisisiekonomi.
Pupuk kompos merupakan bahan organik yang telah mengalami proses fermentasi atau dekomposisi yang dilakukan oleh micro-organisme.
Pada prinsipnya pengomposan TKSS untuk menurunkan nisbah C / N yang terkandung dalam tandan agar terkandung dalam tandan agar mendekati nisbah C / N tanah. Nisbah C / N yang mendekati akan mudah diserap oleh tanaman.
Kompos TKKS juga dapat dimanfaat sebagai media tumbuh tanaman hortikultura. Pada penelitian mengenai pemanfaatan kompos TKKS sebagai media tanpa tanah dan pemupukan pada tanaman pot Spathiphyllum, kombinasi kompos TKKS dan pupuk kandang digunakan sebagai petak utama dan frekuensi pemupukan sebagai anak petak. Hasil penelitian menunjukkan babwa komposisi media berpengaruh nyata terhadap semua parameter yang diamati kecuali untuk pori terisi udara dan kadar N daun, sedang frekuensi pemupukan tidak berpengaruh nyata terhadap semua paramater yang diamati kecuali terhadap tinggi tanaman mulai umur dua bulan dan kadar K pada tanaman umur enam bulan. Kombinasi 50% kompos TKKS dan 50% pupuk kandang adalah media yang baik untuk tanaman Spathiphyllum.