Pendahuluan
Banyak kisah-kisah tentang Nabi Khidir yang ramai dibicarakan orang,
banyak kontroversi tentang kemunculannya, sehingga hal itu mendorong
rasa ingin tahu tentang hakikat sebenarnya. Ada yang menyatakan Nabi
Khidir masih hidup, adapula yang menyatakan Khidir sekarang berdiam di
sebuah pulau, ada pula yang menyatakan bahwa setiap musim haji Nabi
Khidir rutin mengunjungi padang Arafah. Entah khidir siapa dan yang
mana? Tapi yang jelas begitulah khurafat dan takhayyul berkembang di
tengah masyarakat kita. Lucunya, banyak pula orang-orang yang sangat
mempercayai perkara-perkara tersebut.
Semua ini berpangkal dari kesalahpahaman mereka tentang hakekat Nabi
Khidir. Terlebih lagi orang-orang ekstrim dari kalangan pengikut tarekat
dan tasawwuf yang membumbui berbagai macam dongeng dan cerita bohong
tentang Khidir. Sebagian di antara mereka, ada yang mengaku telah
bertemu dengan Khidir, berbicara dengannya dan mendapat wasiat dan ilham
darinya. Misalnya di tanah air kita ini, ada sebagian orang yang
mengaku telah bertemu dengan Khidir dan mengambil bacaan-bacaan
shalawat, wirid-wirid dan dzikir dari Khidir secara langsung, tanpa
perantara, atau melalui mimpi. Ada pula yang mengatakan beliau tidak
lain dan tidak bukan adalah Sang Khidir waliyullah yg
penuh misteri, guru Nabi Musa 'alaihis salam, pemilik rahasia ilmu Ladunni langsung
dari Allah. Bahkan ada pula yang mengaku dialah Nabi Khidir -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Semua ini adalah keyakinan batil!!
Riwayat dusta tentang Nabi Khidir
Shufi pertama yang memalsukan kisah shufistik Nabi Khidir adalah
Muhammad bin Ali bin Husain at Tirmidzi yang bergelar al Hakim (bukan
Ahlu Hadits Imam at Tirmidzi), dan wafat pada akhir abad ketiga
hijriyah. (Al Fikru Ash Shufi, oleh Abdurrahman Abdul Khaliq).
Riwayat tentang perjumpaan Umar bin Abdul ‘Aziz dengan Nabi Khidir.
Ya’qub bin Sufyan meriwayatkannya dalam Tarikhnya dari jalan Abdul Aziz
ar Ramli dari Dhamrah bin Rabi’ah dari as Sari bin Yahya dari Riyadh bin
Ubadah, dia berkata,
“Umar bin
Abdul Aziz keluar untuk shalat dan ada seorang tua yang bertelekan pada
tangannya, lalu aku berkata dalam diriku, ‘Orang tua ini sangat dingin
perangainya.’ Maka tatkala dia shalat dan memulainya, aku menyusulnya,
lalu aku berkata, ‘Semoga Allah memperbaiki Amir dari orangtua yang
bertelekan pada tanganmu?’ Dia (Umar) berkata, ‘Wahai Riyah apakah kamu
tidak tahu dia?’ Aku berkata, ‘Ya.’ Dia (Umar) berkata, ‘Aku tidak
mendugamu kecuali orang yang shalih, itu saudaraku Khidir, dia datang
padaku lalu mengajariku, sesungguhnya aku bertanya tentang masalah umat
dan sesungguhnya aku akan berlaku adil.
Abu Husain bin al Munadi berkata, “Keterangan Riyah seperti angin selain
itu semua keterangannya lemah, keadaannya tidak lepas dari satu perkara
ini, kalau tidak dinisbahkan kepada perawi-perawi yang tsiqah dalam
keadaan lalai atau sebagian mereka sengaja memasukkannya.
Nabi Khidir shalat dengan Madzhab Syafi’i.
Diriwayatkan secara dusta dari Ahmad Sirhindy, bahwa beliau menulis:
“…pada hari itu aku melihat dalam halaqah subuh, bahwa Ilyas dan Khidir
hadir dalam bentuk rohani. Maka berkatalah Khidir dalam penyampaian
rohani, ‘Kami dari alam arwah. Yang Haq telah memberi ruh kami kemampuan
sempurna untuk berbentuk dan berserupa dengan bentuk-bentuk jasad. Dari
ruh itu keluar gerakan-gerakan dan diam jasmaniah, ketaatan dan ibadah
jasadiyah yang keluar dari fisik.’ Di sela-sela itu aku berkata, “Kamu
shalat dengan madzhab Syafi’i.’ Ia menjawab, ‘Kami tidak terbebani
dengan syariat-syariat. Akan tetapi, demi menjaga kepentingan kewalian
quthb yang terikat pada kami. Sedangkan ia bermadzhab Syafi’I, maka kami
shalat di belakangnya dengan madzhab Syafi’i…dst” (Al Muntakhabat min
al Maktubat, Ahmad al Faruky, hal. 91, Turki).
Nabi Khidir pengikut Hanafi, bukan Syafi’i.
Dalam kitab Ma’arijul Albab halaman 44, dari beberapa Syaikhnya, menyebutkan:
“Bahwa Khidir hadir di majelis fiqih Abu Hanifah setiap hari selepas
shalat subuh untuk belajar syariat. Ketika Abu Hanifah meninggal, Nabi
Khidir memohon kepada Tuhannya untuk mengembalikan ruhnya ke kuburnya
demi kesempurnaan ilmu syariatnya. Dan, sungguh Nabi Khidir mendatangi
Abu Hanifah di kuburnya untuk mengaji ilmu syariat darinya di dalam
kubur. Ia melakukan hal itu selama lima belas tahun hingga ia
menyempurnakan ilmu syariat.”
Lihatlah kedustaan yang besar itu. Mengapa Nabi Khidir tidak belajar
syariat dari tangan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam? Mengapa juga
ia tidak belajar dari Khulafa’ur Rasyidin, padahal mereka adalah manusia
yang paling mengerti syariat. Abu Hanifah sendiri pernah berkata,
“Tinggalkanlah pendapatku kepada ucapan para shahabat Rasulullah,
sesungguhnya mereka lebih mengetahui tentang wahyu.”
Dalil Bantahan tentang pendapat yang menyatakan bahwa nabi khidir masih hidup
Orang-orang berselisih mengenai hidup atau wafatnya Khidir. Ada yang
menyatakan dia masih hidup. Tetapi ada juga yang menyatakan bahwa dia
telah lama meninggal berdasarkan dalil-dalil dari Al-Kitab dan Sunnah.
Ini merupakan pendapat para Ahli Hadits. Karena, tidak ada satupun nash
yang shahih, baik dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dapat dijadikan
pegangan bahwa Khidir masih hidup. Bahkan banyak dalil yang menyatakan
ia telah meninggal. Seluruh hadits yang mengatakan bahwa Khidr masih
hidup adalah tidak
sah, berdasarkan kesepakatan ahli al naql. Tidak ada keterangan yang
dapat dipercaya bahwa Khidir pernah berjumpa atau bersama orang dari
para
nabi dan selainnya kecuali Nabi Mûsâ 'alaihissallam. sebagaimana telah dijelaskan
di dalam al Qur’ân surat al Kahfi ayat 60 – 82.
Jika kita mengadakan riset ilmiah, maka kita akan mendapatkan Al-Qur’an
dan Sunnah menjelaskan bahwa Nabi Khidhir telah meninggal dunia.
Riwayat-riwayat tentang hidupnya Khidr hanyalah disebut oleh sebagian
periwayatnya dengan tanpa menyebutkan kelemahan riwayat tersebut.
Adakalanya dikarenakan ketidakmengertian periwayat atau karena sudah
jelas bagi ahli hadits. Begitulah penuturan Abû al Khaţţâb ibn Dihyah.
Hal ini senada dengan perkataan Abû al Husain ibn al Mubârak ketika ia
menelusuri riwayat-riwayat tentang Khidr hidup kekal atau tidak, bahwa
hadis-hadis marfû‘ yang menjelaskan tentangnya semuanya adalah wâhiyah
(lemah) dan sanad (riwayat) ahl al kitâb adalah gugur karena
ketidaktšiqahan mereka.
Abû al Khaţţâb juga menambahkan, pengakuan para ulama bahwa mereka
pernah bertemu dengan Khidr adalah suatu keganjilan yang cukup serius.
Apakah seseorang yang berakal dapat berjumpa dengan seseorang yang tak
dikenal dan berkata kepadanya, “Saya Fulân” kemudian ia membenarkannya?[Mubârak al Barrâk, al Da‘îf wa al Maudû‘ min Akhbâr al
Fitan wa al Malâhim wa Asyrâţ al Sâ‘ah, (Dâr al Salâm, tth.), hal. 108.
Lihat juga Labib MZ, Kisah Perjalanan Hidup Nabi Khidhir; Benarkah Nabi
Khidhir itu Masih Hidup Ataukah Sudah Mati?, (Surabaya: Bintang Usaha
Jaya, 2003), hal. 94]
Ulama yg mengatakan Khidr telah wafat
Di antara para ulama yang berpendapat ketidakkekalan Khidr adalah Imam
al Bukhârî, Ibrâhîm al Harbî, Abû Ja‘far ibn al Munâdî, Abû Ya‘lâ ibn al
Farrâ’, Abû Ţâhir al ‘Abbadî, Abû Bakr ibn al ‘Arabî, Ţâ’ifah, dan
lain-lain.[Al ‘Asqalânî, Fath al Bâri, Juz 6, hal. 536.]
Mereka mendasarkan pendapatnya kepada hadits masyhur yang diriwayatkan
oleh Ibn ‘Umar dan Jâbir ibn ‘Abdullâh, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda di akhir hayatnya:
صَلَّى
بِنَا الَّنِبيُّ صَلىَّ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اْلِعشَاءَ فِي آخِرِ
حَيَاتِهِ فَلَمَّا سَلَّمَ قَامَ فَقَالَ أَرَأَيْتُكُمْ لَيْلَتُكُمْ
هَذِهِ فَإِنَّ رَأْسَ مِائَةِ سَنَةٍ مِنْهَا لاَ يَبْقَى مِمَّنْ هُوَ
عَلىَ ظَهْرِ اْلأَرْضِ أَحَدٌ –اللفظ عن البخاري
Rasulullah shalat ‘Isyâ’ bersama kami di akhir hayatnya. Ketika
beliau telah salam, beliau berdiri lalu bersabda, “Apakah kalian tahu
malam kalian ini? Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang masih hidup di
muka bumi ini sampai seratus tahun ke depan”, (Lafaz hadits dari al Bukhârî). [Abû ‘Abdullâh Muhammad ibn Ismâ‘îl al Bukhârî, Şahîh al
Bukhârî, (Riyad: International Ideas Home for Publishing and
Distribution, 1998), hal. 55]
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al Bukhârî, Imam Muslim, Imam al
Tizmizi, Imam Abû Dâwud dan Imam Ahmad dalam masing-masing kitab
haditsnya melalui jalur periwayatan yang sangat banyak dan bermuara
kepada dua orang sahabat, yakni Ibn ‘Umar dan Jâbir ibn ‘Abdullâh, serta
keduanya langsung mendengarnya dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam,
yang artinya ini merupakan hadis marfû‘. Para ulama ahli hadis telah
sepakat mengenai keşahîhan hadits ini termasuk Imam al Tirmîzî.[Lebih jelas lihat BAB III pada sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjelang akhir hayatnya.]
Selain berpegang kepada hadis di atas, mereka yang meyakini bahwa Khidr
sudah meninggal dunia, mendasarkan kepada firman Allah dalam al Qur’ân
surat al Anbiyâ’ ayat 34:
وما جَعَلنا لِبَشَرٍ مِن قَبلِكَ الخُلدَ أفَإن مت فَهُمُ الخالِدُون
“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum
kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (QS. Al Anbiyâ’: 34).
Dengan demikian jelas Khidr sudah meninggal dan ini tidak dapat
terbantahkan lagi. Dan kalaupun dia masih hidup dan benar-benar anak
kandung Nabi Âdam dan Siti Hawâ, pasti ada seorang nabi yang ditemuinya
selain Nabi Mûsâ alaihissalam, sedangkan tidak ada satu pun riwayat şahîh yang mengatakan bahwa ia pernah bertemu dengan nabi selain Mûsâ alaihissalam. Dan apabila ia hidup kekal pasti ia akan menemui masa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam serta wajib bertemu dengan beliau untuk berbai‘at dan menjadi umat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, karena hal demikian merupakan perjanjian antara Allah dan para nabi yang diutus-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
وإذ أخذ
الله ميثاق النبيين لما آتيتكم من كتاب وحكمة ثم جاءكم رسول مصدق لما معكم
لتؤمنن به ولتنصرنه قال أأقررتم وأخذتم على ذلكم إصري قالوا أقررنا قال
فاشهدوا وأنا معكم من الشاهدين
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi:
“Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah
kemudian datang kepadamu seorang Rasûl yang membenarkan apa yang ada
padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan
menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima
perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami
mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para Nabi)
dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. (QS. Âli ‘Imrân: 81).
Ringkasnya, jikalau Khidr alaihissalam hidup kekal maka ia terikat dengan perjanjian tersebut dan harus menemui Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk beriman kepadanya dan ikut serta dalam setiap perjuangannya mensyiarkan agama Islam. Akan tetapi—lagi-lagi—tidak ada satu pun riwayat sah yang menunjukkan bahwa Khidr pernah bertemu dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Terlebih, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda,
عَنْ
جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ ثُمَّ أَنَّ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَتىَ
النَّبِيَّ صَلىَّ الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ
بَعْضِ أَهْلِ الْكِتَبِ فَقَرَأَهُ الَّنبِيَّ صَلىَّ الله ُعَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَغَضِبَ فَقَالَ أُمَتِّهُوْكُوْنَ فِيْهَا يَا بْنَ
الْخَطَّابِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ
نَقِيَّةَ لاَ تَسْأَلُوْهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوْكُمْ بِحَقٍّ
فَتُكَذِّبُوْا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتَصَدَّقُوْا بِهِ , وَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوْسَى صَلىَّ الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ
كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِي – رواه أحمد
Dari Jâbir ibn ‘Abdullâh, sesungguhnya ‘Umar ibn al Khaţţâb datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan kitab yang diberikan kepadanya dari sebagian ahlul kitâb. lalu ‘Umar membacakannya di hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
maka beliau marah dan bersabda, “Apakah kamu ragu padanya, wahai Ibn al
Khaţţâb? Demi yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh aku telah
datang kepada kalian dengan membawa ajaran yang putih jernih, maka
janganlah kalian bertanya kepada mereka (ahl kitâb) tentang sesuatu
apapun, maka mereka memberitahukan kebenaran kepada kalian, lalu kalian
mendustakannya, atau mereka memberitahukan kebatilan kepada kalian, lalu
kalian membenarkannya. Demi yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya,
seandainya Mûsâ alaihissalam masih hidup, tidak ada keharusan kecuali ia
harus mengikuti ajaranku”. (HR. Ahmad).[Abû ‘Abdullâh Ahmad ibn Hanbal, Musnad al Imâm al Hâfiz
Abî ‘Abdullâh Ahmad ibn Hanbal, (Riyad: International Ideas Home for
Publishing and Distribution, 1998), Juz 3, hal. 338. Hadis ini telah
dijelaskan pada Bab III tentang sumpah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam]
Hadits di atas walaupun membicarakan Nabi Mûsâ alaihissalam
tetapi ia mengena kepada nabi-nabi lainnya, termasuk nabi Khidr. Apabila
Khidr alaihissalam masih hidup maka ia harus bertemu dengan Rasulullah,
mengaku beriman kepadanya, mengikuti şalat berjama‘ah dan berjihad
bersamanya, sebagaimana Nabi ‘Îsâ alaihissalam mengakuinya dan
şalat bersamanya sebagai ma’mûm ketika Rasulullah dalam perjalanan Isrâ’
dan Mi‘râj. Karenanya, Abû al Husain ibn al Munâdi mengatakan, banyak
orang-orang yang keliru dan sesat dalam memahami hadits sehingga
mengklaim bahwa Khidr alaihissalam itu hidup kekal sampai hari kiamat nanti.[Muhammad Syams al Haq al ‘Azîm al Abadî Abû al Ţayyîb,
‘Aun al Ma‘bûd fî Syarh Sunan Abî Dâwud, (Beirut: Dâr al Kutub al
‘Ilmiyyah, 1415 H.), Juz 11, hal. 339]
Untuk semakin memperkuat pendapat bahwa Khidr tidak hidup abadi, para ulama mengangkat hadis tentang perang Badar berikut:
حَدثَّنَا
عُمَرُ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ ثُمَّ نَظَرَ نَبِيُّ اللهِ صَلىَّ اللهِ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمُشْرِكِيْنَ وَهُمْ أَلْفٌ وَأَصْحَابُهُ
ثَلاَثُمِائَةٍ وَبِضْعَةُ عَشْرِ رَجُلاً فَاسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللهِ
صَلىَّ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اْلِقبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ
وَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ اَلَّلهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي
الَّلهُمَّ آتِنِي مَا وَعَدْتَنِي الَّلهُمَّ إِنْ تُهْلِك هَذِهِ
الْعَصَابَةَ مِنْ أَهْلِ اْلإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَد فيِ اْلأَرْضِ فَمَا
زَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ مَادًّا يَدَيْهِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ
حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ مِنْ مَنْكَبَيْهِ فَآتاَهُ أَبُوْ بَكْرٍ
فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَأَلْقَاهُ عَلَى مَنْكَبَيْهِ ثُمَّ الْتَزَمَهُ مِنْ
وَرَائِهِ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللهِ كَفَاكَ مُناشَدَتُكَ رَبُّكَ,
إِنَّهُ سَيُنْجِزُ لَكَ مَا وَعَدَكَ فَأَنْزَلَ الله إِذْ
تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ
بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ مُرْدِفِيْنَ – رواه الترمذي
Diriwayatkan oleh ‘Umar ibn al Khaţţâb, ia berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
melihat kaum Musyrikîn yang berjumlah 1000 orang sedangkan para
sahabatnya hanya berjumlah 3 ratus belasan orang. Maka Nabi saw.
menghadap kiblat kemudian mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada
Tuhannya, “Ya Allah, penuhilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku.
Ya Allah, datangkanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, apabila Engkau membinasakan golongan ini dari umat Islam maka tidak akan ada yang menyembah Engkau di bumi ini”.
Beliau cukup lama memanjatkan doa kepada Tuhannya seraya mengangkat
kedua tangannya sehingga selendangnya terjatuh dari kedua pundaknya.
Maka Abû Bakr menghampiri beliau dan mengambil selendangnya kemudian
meletakkannya kembali di kedua pundak nabi lalu memeluknya dari belakang
seraya berkata, “Wahai Nabi Allah, cukuplah permohonanmu kepada
Tuhanmu, sesungguhnya Dia akan memenuhi apa yang Dia janjikan kepadamu.
Kemudian Allah menurunkan ayat (yang artinya) “(Ingatlah), ketika kamu
memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu:
“Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan
seribu malaikat yang datang berturut-turut”. [QS. al Anfâl: 9]. (HR. Tirmîzî). [Muhammad ibn ‘Îsâ Abû ‘Îsâ al Tirmîzî, Sunan al Tirmîzî,
(Beirut: Dâr Ihyâ’ al Turâš al ‘Arabî, tth.), Juz 5, hal. 269. Lihat
penjelasan hadis ini pada Bab III tentang do‘a Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika Perang
Badar]
Melihat hadits di atas, apabila Khidr masih hidup tentu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
tidak akan berdoa seperti itu, karena saat itu Khidr tidak bersama
pasukan Rasulullah. Jadi, seandainya pasukan Rasulullah yang berjumlah
310 orang itu mati semua, tentu Rasûl tidak akan khawatir karena masih
ada Khidr yang masih menyembah Allah dan menyebarkan ajaran Islam.[Abû al ‘Alâ Muhammad ‘Abdurrahmân ibn ‘Abdurrahîm al
Mubârakfûrî, Tuhfah al Ahwâzî bi Syarh Jâmi‘ al Tirmîzî, (Dâr al Fikr,
tth.), Juz 6, hal. 433.]
Syaikhul Islam Ahmad bin Abdil Halim Al-Harraniy rahimahullah berkata ketika ditanya tentang hadits di atas, “Andaikan Khidir masih hidup, maka wajib baginya untuk datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berjihad di hadapannya, serta belajar dari beliau (Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam). Sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam perang Badar, “Ya Allah, jika pasukan ini hancur, maka engkau tidak akan disembah lagi dimuka bumi”.
Pasukan kaum muslimin waktu itu sebanyak 313 personil. Telah dikenal
nama mereka, nama orang tua, dan qabilah mereka. Lantas dimanakah Khidir
pada saat itu?” [Lihat Al-Manar Al-Munif (hal. 68)]
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah bersabda seusai menceritakan kisah pertemuan antara Mûsâ 'alaihissalam dan Khidr 'alaihissalam:
يَرْحَمُ الله ُمُوْسَى لَوَدِدْنَا لَوْ صَبَرَ حَتىَّ يَقُصَّ عَلَيْنَا مِنْ أَمْرِهِمَا — رواه البخاري
“Semoga Allah merahmati Nabi Mûsâ, kita benar-benar menghendaki
seandainya ia bisa bersabar sehingga dapat menceritakan kepada kita
semua suatu perkara yang terjadi di antara mereka berdua”. (HR al
Bukhârî). [Teks hadis lengkap beserta penjelasannya lihat Bab III pada ucapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di akhir cerita Mûsâ dan Khidr]
Jadi, jikalau Khidr 'alaihissalam masih hidup sampai sekarang, tentu Rasulullah tidak akan berandai-andai seperti itu, sebab ia akan berada bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. dan menunjukkan berbagai macam keajaiban-keajaiban kepada beliau.[10]
Golongan yang meyakini bahwa Khidr tidak hidup kekal, selain dalil-dalil
berupa ayat al Qur’ân dan hadits-hadits di atas, mereka juga mengajukan
argumentasi-argumentasi berupa asumsi-asumsi dari akal pikiran mereka.
Misalnya, Ibn al Jauzî berkata, “Seandainya Khidir
masih hidup, padahal seperti kita ketahui beliau hidup pada zaman Nabi
Mûsâ, bahkan menurut satu cerita sudah hidup pada zaman sebelumnya,
tentunya tubuhnya pun sama besar dengan tubuh manusia yang hidup pada
zaman mereka, yaitu besar dan tinggi orangnya”.[Al ‘Asqalânî, Kisah Nabi Khidir, hal. 25]
Berkata Abû al Hasan ibn al Munâdi bahwa Ibrâhîm pernah ditanya
tentang Khidr, maka beliau menjawab, “Dia sudah lama mati”. Orang yang
mengatakan Khidr masih hidup dan gaib berarti mereka tidak benar.
Tentang Khidr yang datang memberi ta‘ziyah kepada para sahabat dan
keluarga Rasulullah ketika beliau wafat, sedangkan orang yang
berta‘ziyah tidak nampak dan hanya terdengar suaranya, mungkin saja yang
datang itu jin. Begitu juga cerita orang yang mengaku dirinya bertemu
Khidr, mungkin saja yang datang itu jin atau syaiţân. Dan mengenai hadis
Anas radhiyallahu 'anhu yang mengatakan Khidr masih hidup, para
ulama ahli hadis sepakat menolak hadis tersebut. Seandainya ia masih
hidup, pasi ia akan datang menjumpai Rasulullah dan ikut hijrah
bersamanya.[Al ‘Asqalânî, Kisah Nabi Khidir, hal. 28]
Adapun dalil-dalil berupa hadits-hadits marfu’, dan mauquf yang
menyebutkan tentang hidupnya Nabi Khidir sampai hari ini, maka
hadits-hadits itu lemah, bahkan palsu, tidak bisa dijadikan hujjah dan
dalil dalam menetapkan hukum, apalagi keyakinan (aqidah).
Al-Imam Ibrahim bin Ishaq Al-Harbiy rahimahullah berkata,
“Tidak ada yang menyebarkan berita-berita seperti ini (yakni tentang
hidupnya Khidir) di antara manusia, kecuali setan”. [Lihat Al-Maudhu’at
(1/199) dan Ruh Al-Ma’aniy (15/321) karya Al-Alusiy]
Ibnul Munadiy berkata,“Aku telah mengadakan riset tentang
hidupnya Khidir, apakah ia masih ada ataukah tidak, maka tiba-tiba
kebanyakan orang-orang bodoh tertipu bahwa ia masih hidup karena
hadits-hadits (lemah) yang dirwayatkan dalam hal tersebut”. [Lihat
Az-Zahr (hal. 38)]
Ibnul Jauziy setelah membawakan beberapa hadits tentang hidupnya Nabi
Khidir berkata, “Hadits-hadits ini adalah batil”. [Lihat Al-Maudhu’at
(1/195-197)]
Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata,
“Hadits-hadits yang disebutkan di dalamnya tentang Khidir, dan hidupnya,
semuanya adalah dusta (palsu). Tidak shahih satu hadits pun tentang
hidupnya Nabi Khidir”. [Lihat Al-Manar Al-Munif (hal. 67)]
Seorang ulama Syafi’iyyah, Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy rahimahullah
berkata setelah membawakan hadits dan kisah tentang hidupnya Khidir,
“Riwayat-riwayat, dan hikayat-hikayat ini merupakan sandaran orang yang
berpendapat tentang hidupnya Nabi Khidir sampai hari ini. Semua
hadits-hadits yang marfu’ ini adalah dha’if jiddan (lemah sekali), tidak
bisa dijadikan hujjah dalam urusan agama”. [Lihat Al-Bidayah wa
An-Nihayah (1/334)]
Abul Khaththab Ibnu Dihyah Al-Andalusiy rahimahullah
berkata, “Tidak terbukti tentang pertemuan Nabi Khidir bersama dengan
seorang nabi, kecuali bersama Musa, sebagaimana Allah -Ta’ala- telah
kisahkan tentang berita keduanya. Semua berita tentang hidupnya tak ada
yang shahih sedikitpun berdasarkan kesepakatan para penukil hadits (ahli
hadits). Hal itu hanyalah disebutkan oleh orang yang meriwayatkan
berita tersebut, dan tidak menyebutkan penyakitnya, entah karena ia
tidak mengetahuinya, atau karena jelasnya penyakit berita tersebut di
sisi para ahli hadits”. [Lihat Az-Zahr An-Nadhir (hal. 32)]
Ibrahim Al-Harbi pernah bertanya kepada Imam Ahmad, apakah
Nabi Khidir dan Nabi Ilyas masih hidup, keduanya masih ada dan melihat
kita serta kita bisa mendapatkan riwayat dari mereka berdua. Kemudian
Imam Ahmad menjawab:
من أحال على غائب لم ينصف منه، وما ألقى هذا إلا الشيطان
“Siapa yang menekuni masalah ghaib (klenik), dia tidak akan bisa
bersikap proporsional dalam masalah ini. Tidak ada yang membisikkan
berita ini kecuali setan.”
Inilah beberapa dalil, dan komentar para ulama, semuanya menyatakan Nabi
Khidir tidak hidup lagi atau sudah meninggal. Nyatalah kebatilan orang
yang mengaku bertemu dengan Nabi Khidir untuk menerima ajaran di luar
ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bagaimana mungkin Khidir mengajarkan suatu ajaran di luar syari’at Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam??! Itu pasti bukan Nabi Khidir, tapi setan yang ingin menyesatkan manusia





No comments:
Post a Comment