Setelah selama ini kita menikmati hasil
dari batu bara,kita harus siap menghadapi penurunan harga batu bara.
Maklum, krisis Eropa sudah menyebar ke
mana-mana. Memang, produk Indonesia yang diekspor ke negara-negara Uni Eropa
terbilang kecil, yakni hanya 12,6%. Tapi, yang dikhawatirkan adalah Eropa
selama ini menjadi andalan bagi ekspor produk China, India, AS, dan Jepang.
Padahal, negara-negara raksasa tersebut, merupakan pasar yang sangat diandalkan
oleh produk ekspor Indonesia.
Tak ada yang bisa menebak, kapan krisis
di Benua Biru itu akan berakhir. Tapi, banyak analis ekonomi bilang, masih
butuh waktu yang cukup panjang untuk memulihkan keadaan menjadi normal.
Soalnya, krisis keuangan yang membelit Portugal, Irlandia, Italia, Yunani, dan
Spanyol, sudah sangat dalam. Bahkan, Jerman yang ekonominya begitu kuat, kini
mulai merasakan dampak krisis.
Kondisi inilah yang dikhawatirkan
pengusaha batu bara Indonesia. Bob Kamandanu, Ketua Umum Asosiasi Pertambangan
Batu Bara Indonesia, mengaku terus mencermati pengaruh krisis tersebut terhadap
perekonomian China. Soalnya, China menjadi pasar terbesar ekspor batu bara
Indonesia.
Kalau kondisi ini berlanjut terus,
sudah bisa ditebak permintaan akan terus menurun. "Kalau permintaan turun,
tentu terjadi keseimbangan harga baru. Mungkin harganya akan menurun dibanding
sekarang," ujar Dirjen Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi Sumber
Daya Mineral (ESDM) Thamrin Sihite.
Seperti halnya Thamrin, Ade Renaldi
Satari, Corporate Secretary PT ABM Investama Tbk memprediksi, harga batu bara
berkalori rendah akan kembali turun dari yang saat ini US$ 45 per ton menjadi
US$ 37,5 per ton. Itulah sebabnya, ABM akan menurunkan panduan target poduksi.
Semula ABM menargetkan mampu memproduksi 5,5 juta ton per tahun.
Penurunan harga juga bakal melanda
jenis batu bara berkalori tinggi, lebih dari 6.000 kilokalori per kilogram atau
kkal/kg. Batu bara kualitas tinggi itu, umumnya digunakan untuk industri
pembuat baja dan tembaga. Saat ini harga batu bara berkalori tinggi masih
berkisar US$ 90 per ton. Jika permintaan batu bara terus melemah, harga batu
bara jenis ini bisa terus melandai hingga US$ 87 per ton.
Perkiraan itu, tentu saja mencemaskan.
Karena itu, tak salah kalau Thamrin minta pengusaha batu bara menerapkan status
waspada. Tujuannya, supaya pengusaha batu bara tidak mengalami goncangan ketika
sesuatu yang buruk terjadi. Pasalnya, pertambangan batu bara merupakan salah
satu penyokong perekonomian nasional. "Harapannya pertambangan batu bara
tetap berjalan baik. Semua pihak harus waspada pada harga batu bara tahun
depan," katanya.





No comments:
Post a Comment