Tuesday, November 20, 2012

PENGARUH KRISIS EROPA TERHADAP HARGA BATU BARA

        Setelah selama ini kita menikmati hasil dari batu bara,kita harus siap menghadapi penurunan harga batu bara.
        Maklum, krisis Eropa sudah menyebar ke mana-mana. Memang, produk Indonesia yang diekspor ke negara-negara Uni Eropa terbilang kecil, yakni hanya 12,6%. Tapi, yang dikhawatirkan adalah Eropa selama ini menjadi andalan bagi ekspor produk China, India, AS, dan Jepang. Padahal, negara-negara raksasa tersebut, merupakan pasar yang sangat diandalkan oleh produk ekspor Indonesia.
        Tak ada yang bisa menebak, kapan krisis di Benua Biru itu akan berakhir. Tapi, banyak analis ekonomi bilang, masih butuh waktu yang cukup panjang untuk memulihkan keadaan menjadi normal. Soalnya, krisis keuangan yang membelit Portugal, Irlandia, Italia, Yunani, dan Spanyol, sudah sangat dalam. Bahkan, Jerman yang ekonominya begitu kuat, kini mulai merasakan dampak krisis.
        Kondisi inilah yang dikhawatirkan pengusaha batu bara Indonesia. Bob Kamandanu, Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia, mengaku terus mencermati pengaruh krisis tersebut terhadap perekonomian China. Soalnya, China menjadi pasar terbesar ekspor batu bara Indonesia.
        Kalau kondisi ini berlanjut terus, sudah bisa ditebak permintaan akan terus menurun. "Kalau permintaan turun, tentu terjadi keseimbangan harga baru. Mungkin harganya akan menurun dibanding sekarang," ujar Dirjen Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Thamrin Sihite.
        Seperti halnya Thamrin, Ade Renaldi Satari, Corporate Secretary PT ABM Investama Tbk memprediksi, harga batu bara berkalori rendah akan kembali turun dari yang saat ini US$ 45 per ton menjadi US$ 37,5 per ton. Itulah sebabnya, ABM akan menurunkan panduan target poduksi. Semula ABM menargetkan mampu memproduksi 5,5 juta ton per tahun.
        Penurunan harga juga bakal melanda jenis batu bara berkalori tinggi, lebih dari 6.000 kilokalori per kilogram atau kkal/kg. Batu bara kualitas tinggi itu, umumnya digunakan untuk industri pembuat baja dan tembaga. Saat ini harga batu bara berkalori tinggi masih berkisar US$ 90 per ton. Jika permintaan batu bara terus melemah, harga batu bara jenis ini bisa terus melandai hingga US$ 87 per ton.
        Perkiraan itu, tentu saja mencemaskan. Karena itu, tak salah kalau Thamrin minta pengusaha batu bara menerapkan status waspada. Tujuannya, supaya pengusaha batu bara tidak mengalami goncangan ketika sesuatu yang buruk terjadi. Pasalnya, pertambangan batu bara merupakan salah satu penyokong perekonomian nasional. "Harapannya pertambangan batu bara tetap berjalan baik. Semua pihak harus waspada pada harga batu bara tahun depan," katanya.


No comments:

Post a Comment